Judul Buku : Siti Nurbaya ( Kasih Tak Sampai )
Pengarang : Marah Rusli ( 7 Agustus 1889-17 Januari 1986)
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1992
Tempat Terbit : Jakarta
Tebal : 271 halaman
Tokoh : Siti Nurbaya, Samsulbahri, Datuk Maringgih, Baginda Sulaiman, dan Sutan Mahmud Syah.

Samsulbahri merupakan anak tunggal dari Sutan Mahmud Syah, salah seorang bangsawan & penghulu yang sangat disegani dan dihormati di Padang. Rumah Samsulbahri bersebelahan dengan rumah Sitti Nurbaya, anak tunggal dari Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya.

Hubungan antara keluarga Sutan Mahmud Syah dan keluarga Baginda Sulaiman, berjalan dengan baik. Begitu pula hubungan Samsulbahri dan Sitti Nurbaya. Sejak anak-anak sampai usia mereka menginjak remaja, persahabatan mereka makin erat. Apalagi, keduanya belajar di sekolah yang sama. Hubungan kedua remaja itu berkembang menjadi hubungan cinta. Perasaan tersebut baru mereka sadari ketika Samsulbahri akan berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya.

Ayah Sitti Nurbaya jatuh miskin

Bisnis Baginda Sulaiman, ayah Sitti Nurbaya, semakin berkembang pesat. Hal ini menyebabkan Datuk Maringgih marah. Ia tak ingin kekayaan Baginda Sulaiman melebihinya. Ia pun menyuruh anak buahnya untuk membakar dan menghancurkan bangunan, toko-toko, dan semua harta kekayaan Baginda Sulaiman.

Rencana Datuk Meringgih berhasil. Baginda Sulaiman kini jatuh miskin. Namun, ia belum menyadari bahwa semua peristiwa pembakaran tersebut akibat perbuatan licik Datuk Meringgih. Oleh karena itu, ia meminjam uang kepada Datuk Maringgih.

Datuk Meringgih pun memberikannya, namun pinjaman tersebut harus dapat dilunasi dalam waktu tiga bulan. Pada saat yang telah ditetapkan, Datuk Meringgih datang menagih janji.

Namun Baginda Sulaiman tak dapat melunasi hutangnya. Datuk Meringgih marah. Ia mengancam akan memenjarakan Baginda Sulaiman jika hutangnya tidak segera dilunasi, kecuali Sitti Nurbaya menjadi istri mudanya.

Fitnah terhadap Samsulbahri

Baginda Sulaiman memilih untuk dipenjara karena ia tak ingin putri tunggalnya menikah dengan Datuk Maringgih. Pada saat itulah, Sitti Nurbaya keluar dari kamarnya dan menyatakan bersedia menjadi istri Datuk Meringgih asalkan ayahnya tidak dipenjarakan. Suatu putusan yang kelak akan disesali oleh Sitti Nurbaya.

Sitti Nurbaya mengirimkan surat untuk mengabarkan peristiwa yang dialaminya kepada Samsulbahri. Samsulbahri merasa sedih karena besarnya cinta kepada Sitti Nurbaya, maka ketika liburan, ia pun pulang ke Padang, dan menyempatkan diri menengok Baginda Sulaiman yang sedang sakit. Kebetulan, Sitti Nurbaya sedang menjenguk ayahnya, tanpa sengaja. Mereka pun bertemu,lalu saling menceritakan pengalaman.

Ketika mereka sedang asyik mengobrol, datanglah Datuk Meringgih. Ia menuduh mereka telah melakukan perbuatan yang tidak pantas. Samsulbahri menyangkalnya, karena ia merasa tidak melakukan hal yang dituduhkan oleh Datuk Maringgih, maka terjadilah pertengkaran.

Ayah Sitti Nurbaya berusaha turun ke bawah untuk melerai pertengkaran tersebut, namun kondisinya yang kurang sehat menyebabkan Baginda Sulaiman jatuh dari tangga. Ia pun meninggal.

Samsulbahri diusir dari rumah

Ternyata ayah Samsulbahri merasa malu atas tuduhan terhadap anaknya, ia pun mengusir Samsulbahri. Pemuda itu terpaksa kembali ke Jakarta. Sementara Sitti Nurbaya, sejak ayahnya meninggal merasa dirinya telah bebas dan tidak perlu lagi tunduk dan patuh kepada Datuk Meringgih. Sejak saat itu, ia tinggal menumpang di rumah kerabatnya, Aminah.

Sitti Nurbaya bermaksud menyusul Samsulbahri ke Jakarta. Namun, semua itu terhalang karena tuduhan dari Datuk Maringgih, mantan suaminya. Menurut Datuk Maringgih, Sitti Nurbaya sudah mencuri perhiasan miliknya. Namun, semua tuduhan tersebut tak terbukti.

Datuk Maringgih masih belum puas. Ia kemudian menyuruh seseorang untuk meracuni Sitti Nurbaya. Kali ini, perbuatannya berhasil. Akhirnya, Sitti Nurbaya meninggal karena keracunan.

Berita kematian Sitti Nurbaya membuat sedih ibu Samsulbahri. Ia jatuh sakit, dan tak berapa lama kemudian meninggal dunia.

Berita kematian Sitti Nurbaya dan ibu Samsulbahri, sampai ke Jakarta. Samsulbahri amat berduka, ia mencoba bunuh diri. Beruntung, temannya, Arifin, dapat menggagalkan aksi nekat tersebut. Namun, berita yang sampai ke Padang, Samsulbahri dikabarkan telah meninggal dunia.

Samsulbahri menjadi serdadu kompeni

Sepuluh tahun berlalu, Samsulbahri telah menjadi serdadu kompeni berpangkat letnan. Ia sekarang dikenal dengan nama Letnan Mas. Sebenarnya, ia menjadi serdadu kompeni hanyalah pelarian dari rasa frustasinya saat mendengar orang-orang yang dicintainya telah meninggal.

Ia sempat ragu ketika mendapat tugas memimpin pasukan untuk memadamkan pemberontakan yang terjadi di Padang. Bagaimanapun, ia tak dapat begitu saja melupakan tanah leluhurnya itu. Ternyata, pemberontakan tersebut didalangi oleh Datuk Meringgih.

Dalam pertempuran melawan pemberontak, Letnan Mas mendapat perlawanan cukup sengit. Namun, akhirnya ia berhasil menumpasnya, termasuk juga menembak Datuk Meringgih, hingga tewas. Namun, Letnan Mas luka parah terkena sabetan pedang Datuk Meringgih pada bagian kepala, sehingga terpaksa dirawat dirumah sakit.

Samsulbahri meninggal dunia

Saat itulah timbul keinginan Letnan Mas untuk berjumpa dengan ayahnya. Ternyata, pertemuan antara “Si anak hilang” dan ayahnya itu merupakan pertemuan terakhir, setelah Letnan Mas mengatakan bahwa dirinya adalah Samsulbahri, ia mengembuskan napas terakhir di depan ayahnya. Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Samsulbahri menghadap Sang Pencipta, sehingga esok harinya, Sutan Mahmud Syah pun menghadap Illahi.

Sekilas tentang novel Sitti Nurbaya

Buku ini diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahu 1922. Buku yang berjudul Siti Nurbaya ini berhasil menempatkan diri sebagai puncak roman di antara roman-roman lain yang dianggap orang sebagai puncak roman dalam Sastra Indonesia Modern. Penilaian itu tidak didasarkan pada temanya, tetapi berdasarkan pemakaian bahasa dan gayanya yang tersendiri. Buku ini menggunakan bahasa melayu. Oleh karena itu, orang melayu pasti akan lebih mudah membaca dan segera mengerti isinya. Karena terkenalnya sampai-sampai zaman itu dinamai zaman Siti Nurbaya. Roman karyanya ini berhasil pula merebut hadiah tahunan dalam bidang sastra, yang diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969.

Dalam karyanya berjudul Siti Nurbaya, Marah Rusli ingin merombak adat yang berlaku pada masa itu dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia. Pelaku utamanya pada roman ini adalah Siti Nurbaya, Samsulbahri, dan Datuk Maringgih.

Membaca roman Siti Nurbaya kita diajak mengikuti liku-liku kehidupan masyarakat Padang pada masa itu, khususnya kisah cinta yang tak kunjung padam dari sepasang anak manusia, Siti Nurbaya dan Samsulbahri. (https://awan965.wordpress.com)

Sekilas tentang Marah Rusli (penulis novel Sitti Nurbaya)


Pengarang, Marah Rusli merupakan pemuda terpelajar memiliki pemikiran jauh ke depan daripada masyarakat umunya di masa itu. Ia telah mengenal tata cara hidup dan kebudayaan asing sehingga berpengaruh terhadap jiwanya, menerobos tradisi yang mengungkung.

Marah Rusli
  • lahir tanggal 7 Agustus 1889 di Padang dan pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung.
  • SD pada tahun 1904 di Padang, Sekolah Raja (Hoofdenscool) di Bukit Tinggi pada tahun 1910, dan tamat Sekolah Dokter Hewan di Bogor pada tahun 1915.
  • Tahun 1915 menjadi adjunct dokter hewan di Sumbawa Besar, kemudian tahun 1916 menjabat Kepala perhewanan di Bima. Tahun 1918 pindah menjadi kepala peternakan hewan kecil di Bandung, kemudian mengepalai daerah perhewanan di Cirebon. Tahun 1919 menjabat kepala daerah perhewanan di Blitar, tahun 1920 menjadi asisten leraar Kedokteran Hewan Bogor, tahun 1921 menjadi dokter hewan di Jakarta, tahun 1925 pindah ke Tapanuli. Sejak tahun 1929 sampai datang revolusi 1945 menjadi dokter hewan kotapraja Semarang. Selama revolusi tinggal di Solo, kemudian bekerja pada ALRI di Tegal. Tahun 1948 diangkat menjadi lektor di Fakultas Dokter Hewan Klaten dan dalam tahun 1950 kembali ke Semarang.
  • Sejak tahun 1951 menjalani masa pensiun di Bogor, tetapi masih tetap menyumbangkan tenaganya di Balai Penelitian Ternak Bogor sampai akhir hayatnya.

    Di samping profesinya sebagai dokter hewan, Marah Rusli terkenal pula sebagai sastrawan karena romannya yang berjudul Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai).

Semoga bermanfaat.

Ig. hari_hari_hera


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: