Penulis: Habiburrahman El Shirazy

Tahun terbit :2008

Penerbit:Republika

Jumlah halaman: 477

Cetakan ke-10

Bab 1 Senja Bertasbih di Alexandria

Pekan promosi budaya yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk mesir meminta Kairul Azzam menjadi salah satu pengisi acara. Azzam diminta menangani menu masakan Timlo Solo selama 6 hari. Pada pekan budaya ini Azzam berkenalan dengan putri pak dubes, Eliana Pramesthi Alam.

Eliana merupakan sosok perempuan muda cantik dan cerdas. Dia sangat terkenal setelah menuliskan pandangannya disalah satu surat kabar Mesir, Hal tersebut membuat Eliana begitu populer di kalangan anak muda Indonesia yang berada di Mesir.

Setelah pekan promosi budaya usai, ternyata Eliana meminta Azzam membantunya menyiapkan menu ikan bakar, Pak dubes berencana menjamu teman lamanya semasa kuliah di Fisipol UGM dengan menu ikan bakar.

Azzam menyetujui permintaan Eliana, mereka pun mencari bahan untuk ikan bakar ke pasar dengan diantar sopir Eliana, pak Ali. Kebersamaan itu membuat Azzam semakin mengenal Eliana, dan begitu sebaliknya.

Bab 2 Tekad Berajut Doa

Pada hari H, Azzam sibuk menyiapkan menu ikan bakar, Disana pak dubes bertemu teman lamanya, pak Juneidi. Mereka bernostalgia dengan masa kuliah dulu sembari menikmati ikan bakar. Pak dubes tampak puas dengan ikan bakar racikan Azzam.

Disana, Azzam bertemu Furqan, teman satu anggkatannya. Azzam nampak sungkan untuk menyapa, agak tak enak hati. Furqan nampak mengenal Eliana.

Awal kuliah dulu, Azzam mendapat nilai yang tinggi, bahkan Furqan sering bertanya bahasa Arab kepadanya. Sekarang semua terbalik, Furqan sebentar lagi lulus S2, sedang Azzam S1 pun belum lulus. Hari-hari nya disibukkan dengan berjualan, dari jualan tempe, bakso, dan jas katering.

Ayahnya wafat saat Azzam baru kuliah di tahun pertama. Azzam pun menjadi tulang punggung keluarga, banting tulang membiayai ibu dan tiga adik perempuannya di Indonesia, namun kuliahnya pun tak boleh kandas. Dia harus lulus.

Setelah selesai menyiapkan ikan bakar, Azzam bergegas pulang ke hotel tanpa sempat berpamitan dengan Eliana. Besoknya Eliana menelpon Azzam untuk mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Eliana juga mengatakan akan mencium Azzam sebagai ucapan terimakasihnya. Azzam tersinggung, ia segera menutup telepon. Azzam dulu pernah suka dengan Salwa, santriwati di pondok pesantrennya. Sayangnya Salwa sudah dipinang oleh putra sulung Kyai Pondok pesantren tersebut, sejak itu tak ada lagi perempuan yang cocok dihatinya. Salwa selalu menjadi ukuran Azzam mencari istri, maka ketika pesona Eliana perlahan mulai mengganggu pikirannya, Azzam gelisah karena Eliana berbeda dari Salwa.

Bab 3 Bidadari dari Daarul Quran

Azzam sholat subuh di masjid dekat hotel, dua bertemu pak Ali sopir pak dubes disana. Selepas sholat subuh, pak Ali meminta waktu ke Azzam. Pak Ali mencoba menasehati Azzam jangan sembarang memilihpendamping, jangan Eliana, mereka terlalu berbeda. Pak Ali juga menceritakan pernikahan pertamanya yang kandas akibat perbedaan seperti itu, mantan istrinya terlalu glamour, carilah sekufu Azzam! Karena akan memudahkanmu membina rumah tangga.

Pak Ali menceritakan sekarang dia bahagia dengan pernikahannya sekarang, meskipun istrinya janda yang tinggal wafat sangat suami, tapi tak banyak perbedaan mencolok, se kufu, sehingga memudahkan menentukan arah berumah tangga.

Pak Ali memberi tahu, di Al-Azhar ada putri kyai Luthfi Hakim yang sedang menyelesaikan S2, Anna Althafunissa. Anna cocok sekali dengan Azzam menurut pak Ali. “Khitbah dia, sebelum dikhitbah orang lain !” Kata pak Ali.

Bab 4 Cerita Furqan

Azzam secara tak sengaja bertemu Furqan di toko buku, mereka berpelukan. Furqan mengajak Azzam makan roti kibdah di samping masjid tua sambil berbincang-bincang.

Aku sedang bingung menentukan pilihan, Zam. ” Kata Furqan

Furqan mengutarakan bahwa ia tertarik dengan Eliana, padahal sebulan yang lalu baru saja mengkhitbah seorang gadis, seorang mahasiswi S2 di Al-Azhar.

Furqan merahasiakan siapa gadis yang sudah dikhitbahnya.

Setelah mendengar cerita dari Furqan, Azzam bersyukur, dia semakin yakin Eliana bukan pilihan yang tepat untuknya. Untuk Furqan? Wallahu’alam, Eliana begitu bebas dan sekuler, bisakah dia diajak berdakwah seperti yang diharapkan oleh Furqan?

Bab 5 Meminang

Setelah perbincangan dengan Furqan, Azzam membulatkan tekad meminang Anna Altafunisa sesuai saran Pak Ali, Azzam belum pernah bertemu Anna, namun tekadnya sudah bulat.

Azzam mendatangi ustad Mujab, Azzam ingin ustad Mujab mengkhitbah Anna untuknya. Ternyata Anna adalah sepupu ustad Mujab, dunia begitu sempit, Azzam pun baru tahu hal ini.

“Anna sudah dikhitbah sebulan lalu oleh temanmu Furqan, Zam, ” Ucap ustad Mujab.

Azzam terkejut, namun dia menyadari pasti banyak yang menginginkan Anna.

Furqan memutuskan kembali fokus untuk membiayai ibu dan adik -adiknya di Indonesia.

Bab 6 Lagu-Lagu Cinta

Azzam memiliki teman satu angkatan Fadhil dan Hafez, Fadil dan Hafez tinggal satu flat, permasalahannya Hafez ada perasaan cinta kepada Cut Mala, adik Fadhil, dan Hafez tidak punya keberanian menyatakan perasaan karena Hafez sendiri tidak yakin Cut Mala akan menerimanya dan bersedia menikah, karena tak ada kata pacaran dalam keyakinannya.

Cut Mala sendiri mempunyai teman satu flat bernama Masyitah dan Tiara, Tiara diam-diam menyukai kakak Cut Mala, Fadhil, namun tak berani mengutarakannya, di sisi lain dia belum memberikan jawaban khitbah dari ustadz Zulkifli kepadanya.

Bab 7 SMS untuk Anna

Anna tampak bahagia, proposal tesisnya diterima, namun ditengah kebahagiaan Anna , tiba-tiba masuk SMS ke ponselnya, SMS dari mbak Zulfa, istri ustad Mujab, sepupunya. Mbak Zulfa menanyakan jawaban Anna mengenai khitbah Furqan, tiga bulan sudah Furqan menanti jawaban Anna, dia hampir lupa karena waktunya habis untuk memikirkan proposal tesisnya.

sementara Furqan juga sedang sibuk menghadapi sidang tesis di salah satu hotel di Cairo.

Bab 8 Siang di Kampus Maydan Husein

Azzam pergi ke kampus karena ada urusan tentang kuliah, selain itu ia juga ada janji dengan Khaled, teman Mesir nya, tak terasa sudah 9 tahun berada di Mesir. Awal menginjak kan kaki di sini, Azzam begitu idealis, bercita-cita meraih gelar Doktor, namun takdir berkata lain, bahkan setelah 9 tahun, S1pun belum lulus.

Bab 9 Perjalanan ke Sayyeda Zainab

Setelah urusan kampus dan janji bertemu dengan Khaled tuntas, Azzam lanjut belanja bahan baku tempe dan bakso di pasar Sayyeda Zainab. Dalam perjalanan Azzam bertemu dengan mahasiswi Indonesia, yang berhijab biru tampak meredakan tangis temannya yang berhijab coklat. Azzam yang saat itu naik taksi karena barang belanjaannya yang banyak meminta sopir taksunya berhenti, setelah melihat lebih dekat ternyata mahasiswi yang berhijab biru adalah orang yang sama ditemuinya saat ke Sayyeda Zainab tadi, mereka bertemu di dalam bisa menuju pasar, gadis tersebut bertanya letak toko buku.

“Temanku kecopetan di bis tadi saat kamu mau pulang” Kata dia.

“lho kamu kan tadi ke toko buku, mana buku yang di beli? ” Tanya Azzam.

“Ketinggalan di bis tadi, karena saya sibuk berteriak “copet” saat melihat ada orang mengambil dompet teman saya ini. ” jawab gadis itu lagi.

Bab 10 Pengejaran dengan Taksi

Azzam memberikan tumpangan kepada dua orang gadis tersebut kemudian Azzam meminta sopir taksi mengejar bis 65 yang tadi ditumpangi gadis tersebut, akhirnya bisnya dapat terkejar, mereka menghentikan sesaat sambil mencari bungkusan berisi buku-buku yang tertinggal. “Bukunya masih ada. “

Azzam terpaksa tidak bisa mengantarkan gadis tersebut sampai tujuan karena mereka berbeda arah. Gadis tersebut berterima kasih sudah ditolong eh Azzam.

“Maaf, dengan akhirnya siapa? ” Tanya gadis tersebut

“Abdullah ” Jawab Azzam, ya nama lengkapnya sebenarnya Abdullah Khairul Azzam, namun saat membuat akta lahir hanya tercatat Khairul Azzam.

Azzam melanjutkan perjalanan, ia tak berbohong soal nama, ia sengaja menggunakan nama Abdullah agar pertolongannya terhadap gadis tersebut hanya karena Allah, tanpa pamrih apapun.

Bab 11 Rezeki Silaturahmi

Azzam nampak sibuk mengolah tempe, keahliannya ini merupakan buah silaturahmi. Ketika di pondok, Azzam pernah mengisi liburan dengan menginap ke rumah teman pondoknya di Candiwesi, Salatiga. Candiwesi adalah daerah penghasil tempe dan temannya tersebut adalah anak juragan tempe. Selama disana Azzam sering membantu, sehingga ia pun bisa membuat tempe.

Keberangkatan ke Azhar juga buah dari silaturahmi begitu pula keahliannya membuat bakso.

Azzam mendapat pesanan 500 porsi soto lamongan dari Eliana, ia ingin merayakan ulang tahunnya dengan menu masakan Indonesia, salah satunya soto lamongan.

Berita Anna yang sudah dikhitbah Furqan sudah menyebar dikalangan mahasiswi Indonesia, hal ini membuat Anna semakin bingung.

Bab 12 Rumus Keberhasilan

Furqan kecewa ketika mengetahui ayah dan ibunya tidak bisa datang ke Mesir menghadiri wisuda S2 nya. Kakaknya sedang menanti persalinan buah hatinya, sedangkan iparnya sedang tugas di luar daerah. Ibunya tak sampai hati meninggalkan kakaknya sendiri, terlebih kehamilan sangat kakak cukup bermasalah, pendarahan. Ayahnya tak mau datang tanpa ditemani ibunya.

Azzam larut dalam rutinitas membuat bakso, dia meyakini kemudahan yang diperoleh nya selama ini berkat ridho Allah karena ridho inilah kunci segala keberhasilan.

Nasir teman satu flatnya, adik tingkat di Al-Azhar datang membawa teman Mesirnya yang baru dikenal, Wail El Ahdali. Rencananya Wail akan menginap disana namun Azzam keberatan, Mereka tak mengenal Wail dan sebagai perantau di negeri orang memang harus berhati-hati, bila ada masalah repotnya bisa berkali lipat.

Nasir pun menyadari kesalahannya kemudian ia membawa Wail pergi setelah sempat minum teh dan makan kebab.

Bab 13 Tamu Tak Diundang

Majam itu, Flat mereka digedor oleh orang -orang berseragam.

“Nana Wail!! ” tanyanya

“Kami tak tahu maksud kalian”

“geledah!! ” Sang komandan memerintah

Suasana mencekam, Azzam bersyukur ternyata Nasir mendengar sarannya agar temannya tidak menginap, ternyata tenan nya tersebut sedang di cari orang berseragam

“Kami dari intelijen Mesir. “

“Jika ada apa-apa dengan temanmu hubungi kami. “

“Maaf kami sudah mengganggu, ternyata yang kami cari tak ada. “

Selama penggeledahan Fadhil pingsan, ia seolah kembali ke masa lalu, saat itu ayahnya dituduh anggota gerakan pengacau keamanan di Aceh, Ayahnya di bawa orang berseragam menghilang selama, sebulan dan dikembalikan dalam kondisi menyedihkan. Esoknya sangat ayah meninggal, ayahnya sempat berpesan kepada Fadhil “Jangan dendam, jadi muslim sejati, jadi orang Aceh sehati. “

Bab 14 Hari yang Menegangkan

Azzam dan yang lainnya sibuk membangunkan Fadhil , sampai jam 6 pagi belum siuman. Mereka pun membawa Fadhil ke rumah sakit. Pekerjaan Azzam mengolah tempe didelegasikan ke Rio, semua bahan sudah terlanjur direndam saat penggeledahan tersebut.

Furqan kaget menerima fotonya tanpa busana, siapa dan kenapa? Kemudian dia membuka surat, ternyata dia dijebak dan diperas.

Bab 15 Pesona Gadis Aceh

Nasir sudah ada di flat, flat sepi. Azzam sendiri pun baru datang dari rumah sakit. Dia ingin mengecek tugas yang diberikan ke Rio. Ternyata Rio bisa diandalkan.

“Pada kemana kang? Seperti. ” Tanya Nasir.

“Rumah sakit, Fadhil pingsan. “

Azam mencerminkan tentang malam penggeledahan itu, Nasir tampak menyesal.

“Lupakan pertemananmu dengan Wail!”

“Iya kang, maaf”

‘Ternyata dia dicari oleh intelijen Mesir, Sir. “

Azzam kembali ke rumah sakit, dua bertemu Cut Mala, adik Fadhil. “Oh, pantaslah Hafez galau luar biasa” Katanya dalam hati.

Fadhil meminta segera keluar dari rumah sakit karena ia dan adiknya tak punya uang untuk membayar. Azzam menenangkan Fadhil, ia akan menangani biaya rumah sakit.

Bab 16 Insyaf

Furqan menemui ustadz Mujab mengenai masalah fotonya diambil entah kapan oleh pemeras. Ustadz Mujab menyarankan agar Furqan muhasabah, introspeksi.

Furqan juga meminta bantuan kepada pak Rusydan, atase pendidikan. Pek Rusydan menyarankan agar Furqan menelpon polisi.

Furqan menyadari bahwa kehidupannya sudah menjauh dari syariat Allah dan ini ia anggap sebagai teguran Allah kepadanya, wujud kasih sayang Allah terhadap umatNya.

Bab 17 Pertemuan yang Menggetarkan

Azzam satu bis dengan Cut Mala, tanpa sengaja. Azzam hendak pulang sehabis belanja kedelai di Sayyeda Zainab sl,sedang Cut Mala akan ke flat Azzam menjenguk kakaknya Fadhil.

Hafez sudah pulang ke flat, kedatangan Cut Mala membuat Hafez hatinya bergetar luar biasa.

Bab 18 Air Mata Cinta

Cut Mala menyampaikan pesan dari Tiara, Tiara meminta pendapat Fadhil, khitbah dari ustadz Zulkifli kepadanya diterima atau tidak. Fadhil sebenarnya menaruh hati terhadap Tiara, namun ia tak boleh egois, meminta Tiara menolak ustadz Zulkifli dan menunggunya lulus S1.

Fadhil hanya menitipkan pesan agar Tiara istikharah saja, meminta petunjuk Allah.

Pesan tersebut disampaikan oleh Cut Mala, Tiara terlihat kecewa, karena Fadhil tak memberikan reaksi yang nyata.

Bab 19 Surat dari Indonesia

Azzam menerima surat dari adiknya Ayatul Husna, Husna.

Surat itu seperti oase di padang kerinduan, sembilan tahun sudah mereka berpisah, namun ia yakin apa yg dia lakukan tak sia-sia.

Bab 20 Bintang yang Bersinar Terang

Anna dimintai menjadi moderator dalam seminar yang diselenggarakan kampus.Anna tampil memukau. Furqan hadir, dia begitu bangga moderatornya Anna, wanita yang dikhitbahnya.

Azzam juga datang, dia datang karena mengetahui Anna sebagai moderator seminar. Perasaan campur aduk , Azzam tak mengira Anna adalah gadis yang ia bantu saat temannya kecopetan dalam bis. Gadis yang sama pernah dikhitbahnya melalui ustadz Mujab tanpa melihatnya, karena mendapat Infi dari Pak Ali, sopir Eliana.

Bab 21 Ratapan Hati

Furqan lulus ujian tesus S2, ia mengadakan syukuran kecil-kecilan, Azzam pun turut diundang. Azzam bahagia Furqan akhirnya mendapatkan yang dicita-citakan.

Tiara memutuskan menerima lamaran ustadz Zulkifli, meski hatinya gundah.

Fadhil sendiri sebenarnya sedih, namun apa mau dikata.

Bab 22 Rasa Optimis

Furqan mendapat kabar pemerasnya berhasil ditangkap kepolisian Mesir, dia bahagia.

Furqan berencana pulang ke Indonesia setelah semua urusan selesai. Dia bermaksud melamar Anna ke Kyai Luthfi Hakim, ayah Anna. Dia ingin mendapatkan kepastian atas lamarannya.

Bab 23 Periksa Darah

Furqan menunda kepulangannya, ia mendapat kabar pemerasnya adalah seorang agen Mosad, hampir semua yang menjadi korbannya tertular AIDS, ia memutuskan untuk periksa darah, pemeriksaan pertama gagal karena ada Insiden kecil. Sekarang hatinya tak karuan menunggu hasil tes yang kedua.

Bab 24 Pasrah

Furqan mendapat kabar mengenai foto tanpa busananya tersebar luas, ternyata penjahatnya sudah menyebarluaskan foto-foto tersebut. Dia tak tahu harus melakukan apa lagi, hanya bisa pasrah.

Bab 25 Langit Seolah Runtuh

Hasil periksa darah menunjukkan Furqan positif HIV, Langit berasa akan runtuh. Dia tak tahu harus melakukan apa.

Bab 26 Kabar Gembira

Azzam selesai ujian S1, dia pun memenuhi janjinya membuatkan soto lamongan 500 porsi pesanan Eliana, putri pak Dubes.

Eliana memutuskan pulang ke Indonesia, katanya ada tawaran di dunia sinetron Indonesia.

Azzam pun berencana pulang ke Indonesia jika S1 selesai, cukup sudah 9 tahun berpisah dari ibu dan ke tiga adiknya.

Bab 27 Resep Cinta Ibnu Athaillah

Fadhil merana dengan proses walimahan Tiara dan ustadz Zulkifli, apalagi dis menjadi tim panitia acara walimahan tersebut.

Azzam menasehati dari kitab Ibnu Athaillah:

“Tidak ada yang bisa mengusir syahwat atau kecintaan pada kesenangan duniawi selain rasa takut kepada Allah yang menggetarkan hati, atau rasa rindu kepada Allah yang membuat hati merana.”

” Jazakillah Kang, Aku sudah tahu apa yang harus ku putuskan! “

“semoga keputusan yang tepat dan terbaik, dhil. “

“Semoga Kang. “

“Amin.”

Bab 29 Tangis Sang Pengantin

Fadhil memutuskan mengirim surat pendek kepada Tiara, Fadhil mengungkapkan sikapnya, meski ia mencintai Tiara, tapi dalam agama tidak boleh menikung wanita yang sudah di khitbah dan hendak menikah. Islam tidak mengijinkan kezaliman bentuk apapun meski alasan cinta.

Bab 30 Bunga-Bunga Harapan

Akhirnya, Azzam pulang ke Indonesia. Semua barang yang tak bisa dibawa diwariskan ke teman satu flat.

Peralatan bakso dan tempe dijual murah ke Rio.

Syukuran kecil-kecilan diadakan, pada hari H , Azzam diantar ke bandara , ada Fadhil,Hafez, Nasir, dll.

Azzam satu penerbangan dengan Eliana, dia pun bertemu pak Ali, Azzam berpamitan dan pak Ali menitip salam kepada Kyai Luthfi bila Azzam sowan ke pondok pesantren beliau.

bersambung….

Ringkasan novel : Di Bawah Lindungan Ka’bah

HARUS BISA!

novel buya hamka tuan direktur


1 Komentar

Ringkasan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Sinopsis) - Dunia Hera · 5 Februari 2022 pada 9:00 pm

[…] Ringkasan “Ketika Cinta Bertasbih” […]

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: