Mau Jadi Pengajar “Ummi” ?

Apakah kalian pernah mendengar membaca Qur’an dengan metode Ummi?

Saya berkenalan dengan metode ini sekitar enam tahun yang lalu. Kebetulan sekolah putri sulung kami ada mata pelajaran BTA ( Baca Tulis Alqur’an) Ummi. Pada Angkatan putri kami, mata pelajaran ini diajarkan hingga kelas dua sehingga kami hanya mengenal dasarnya saja.

Namun Satu tahun belakangan ini, adik ipar saya menjadi pengajar Ummi bersertifikat. Beliau adalah Ustadzah Muna Widasari, ST. Pengajar Ummi di Rumah Qur’an (RQ). RQ sendiri berada di cluster Quince Blossom (QB) Perumahan Harvest City, Kabupaten Bekasi.

Di suatu sore, saya banyak bertanya kepada beliau tentang bagaimana beliau bisa menjadi pengajar Ummi di RQ tersebut. Bahkan pertanyaan saya terus berlanjut melalui Whatsapp chatting.

Berikut petikan komunikasi saya, Dunia Hera (DH) dengan Ustadzah Muna (UM) yang membahas hal tersebut :

DH : “Ustadzah, Bagaimana proses menjadi pengajar Ummi?”

UM : “Saat itu ada pengumuman pembinaan guru Ummi di RQ, Karena kuotanya terbatas. Maka, saya pun segera mendaftar. Setelah itu, semua yang mendaftar di tes dulu oleh koordinator Qur’an. Jika lulus, peserta bisa ikut kelas pembinaan”.

DH : “Bagaimana jika peserta tidak lulus, UM?”

UM : “Jika tidak lulus, maka disarankan mengikuti kelas tahsin reguler dulu untuk memperbaiki bacaannya. Jika sudah baik, bisa dites kembali oleh koordinator Qur’an. Selanjutnya akan diikutkan kelas pembinaan kloter berikutnya.”

DH : “Mengenai kelas pembinaan tadi. Berapa lama kelas diadakan?”

UM : “Kelas pembinaan dilakukan 1x/ minggu selama 3-4 bulan. Dan setiap pertemuan sekitar 3 jam.”

DH: “Apa yang dibahas dalam kelas pembinaan, UM?”

UM : “Yang dibahas adalah materi dari jilid 1 hingga materi ghorib disertai metodelogi pengajarannya. Jika materi sudah selesai. Maka menunggu hingga ada tes tashih dari Ummi Daerah (umda).”

DH : “Kapan tes tashih dari umda diadakan, UM?”

UM : “Waktunya ditentukan oleh umda, yang pasti dilaksanakan 2-3 kali per tahun.”

DH : “Bagaimana hasil penilaian tes tashih dari umda tersebut?”

UM : “Tes tashih ada beberapa hasil penilaian. Mulai dari lulus jilid 1, jilid 2, jilid 3, jilid 4, jilid 5, jilid 6, lulus- (lulus dengan catatan) dan lulus.”

DH : “Setelah itu, UM ?”

UM : “Bagi yang penilaiannya lulus dan lulus (-) maka bisa langsung sertifikasi. Biasanya sertifikasi diadakan satu bulan setelah tes tashih.”

DH: “Bagaimana yang mendapat penilaian selain itu?”

UM : “Yang mendapat penilaian lulus jilid 6 masih diberi kesempatan sertifikasi dengan catatan harus ikut pembinaan intensif guru yang diadakan oleh umda selama 2 hari. Biasanya dilakukan 1-2 minggu setelah tes tashih. Setelah pembinaan intensif itu dites lagi. Jika lulus bisa ikut sertifikasi. Jika belum lulus juga bisa ikut sertifikasi namun bersyarat.”

DH : “Apa yang dimaksud sertifikasi bersyarat UM?”

UM : “Sertifikat dan kartu keanggotaan belum bisa dibawa sampai peserta tersebut benar-benar lulus saat di tes baca.”

DH : “Apakah yang bersertifikasi bersyarat bisa menjadi pengajar Ummi, UM?”

UM : “Bisa, namun dengan izin ditambah supervisi dari koordinator Qur’an selama 3 bulan.”

DH : “Adakah tips khusus agar sukses tes kelas pembinaan, UM?”

UM : “Yang penting bacaan Qur’annya sudah baik. Panjang pendek sudah benar. Huruf tidak salah, membacanya pun tidak terbata bata atau masih meraba-raba.”

DH : “Adakah pesan yang ingin disampaikan, UM?”

UM : “Apa yaaa…hmmm… yang penting, nanti jika sudah menjadi pengajar harus berani … Suaranya dibuka, bacaannya tartil ( tidak terburu-buru) sehingga makhrajul hurufnya bisa benar dan jelas.”

Tinggalkan Balasan