Inti sari buku : Pribadi dan Martabatnya Buya Hamka

Pengarang : H. Rusydi Hamka (putra Buya Hamka)

Buya Muda

Buya Hamka adalah putra DR. Karim Amrullah atau Haji Rasul, lahir di Maninjau, Sumatera Barat. Meski orang tuanya berpisah, Buya mengisi masa mudanya dengan hal bermanfaat. Selain aktif di organisasi, Buya juga sudah ke Mekah untuk naik Haji dan memperdalam ilmu agama.

Semula karena kesibukannya, Haji Rasul tak begitu dekat dengan Hamka muda, namun sepulangnya dari Mekah, ayahnya begitu bangga dengan Hamka hingga Jubah terbaik miliknya diberikan kepada Hamka muda.

Hamka dan Muhammadiyah

Hamka aktif di Muhammadiyah sejak muda, organisasi ini begitu erat dengannya. Kakaknya menikah dengan tokoh Muhammadiyah, A R Mansur.

Untuk mbuat buku ini, Rusydi Hamka mengumpulkan banyak kenangan tentang sang ayah, karena Rusydi lah yang menemani sangat ayah berjuang di hutan, berpindah-pindah tempat, meskipun saat itu terbilang belia, begitu banyak kenangan. Kenangan tongkat beliau, ketegasan beliau mengatakan kebenaran meskipun pahit.

Siti Raham

Beliau adalah istri Buya, mereka dijodohkan, saat menikah Buya berusi 21 tahun, sedangkan ibu Siti Raham 15 tahun. Sosok sederhana, namun berperan besar dalam hidup Buya Hamka. Seorang istri yang tak banyak menuntut, selalu menjaga marwah suami, perempuan luar biasa yang selalu mendukung Buya Hamka.

Rusydi menuliskan saat sang ayah dipenjara dua tahun lebih oleh pemerintah hanya karena berseberangan pendapat, ibunya lah yang memikul tanggung jawab mengurus masalah rumah tangga, selalu tegar agar tidak menambah beban pikiran suaminya saat di penjara.

Saat itu semua teman dan saudara menjauh, royalti tulisan Hamka terhenti, namun sang ibu sanggup mengatasinya.

Ketika ekonomi mereka sedang sulit, saat perhiasan sudah habis terjual, Ibunya mulai menjual kain batik tulisnya untuk biaya hidup sekeluarga. Ayahnya sempat menawarkan agar kain bugis miliknya saja yang dijual, namun ditolak sang ibu, karena ibunya tahu ayahnya begitu banyak acara diluar, sehingga lebih membutuhkan kain bugis tersebut agar terlihat rapi saat menghadiri berbagai acara. Ibunya begitu menjaga martabat sang suami.

Masih banyak hal istimewa yang membuat Buya Hamka mencintai ibu Siti Raham.

Ibu Siti Raham meninggal di usia 58 tahun dikarenakan sakit, Beliau menemani Buya dalam suka maupun duka selama 43 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam dihati Buya karena begitu banyak jejak kebaikan yang ditinggalkan sang istri di hati beliau.

Hamka dan Soekarno

Hamka pernah di penjara lebih dari 2 tahun pada masa pemerintahan Soekarno. Hebatnya tak sedikitpun dendam tersisa, beliau memaafkan, bahkan beliau menjadi imam sholat jenazah Soekarno.

Tafsir Al Azhar

Tafsir ini ditulis Hamka di dalam penjara , begitu lah orang hebat, saat di penjara pun tetap berkarya.

Hamka dan Pramoedya Toer

Dimasa lalu Hamka pernah difitnah oleh Lekra, Lekra adalah organisasi sayap milik PKI. Pram adalah tokoh di Lekra, dia menuduh karya Hamka yang berjudul ” Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ” adalah hasil plagiat selain itu mereka mengeluarkan propaganda untuk menyerang pribadi Hamka.

Fitnah yang sungguh kejam, hebatnya Hamka tak dendam dan agaknya Pram pun tahu bahwa dia bersalah dan menyadari jika Hamka adalah orang yang baik sehingga ketika calon suami putrinya akan belajar agama Islam maka Pram pun merekomendasikan Hamka sebagai tempat belajar.

Hamka mengajarkan Islam dan membimbing calon menantu Pram mengucapkan dua kalimat syahadat.

Tak ada dendam tersisa.

Siti Khadijah

Sepeninggal ibu Siti Raham, Buya terlihat sering murung terlebih beliau mengidap diabetes, maka anak-anaknya berinisiatif mencarikan pendamping hidup untuk Buya agar ada yang siap 24 jam menemani Buya. Ibu Siti Khadijah menjadi pendamping hidup Buya hingga Buya wafat. Beliau wanita luar biasa, mengurus segala keperluan Buya.

Buya Wafat

Buya wafat akibat sakit, beliau dimakamkan bersebelahan dengan ibu Siti Raham.Sebelahnya lagi dipersiapkan kelak untuk ibu Siti Khadijah, sehingga makam Buya diapit makam kedua istri beliau

HARUS BISA!

Ringkasan Film Arini 1 (Arini, Masih ada Kereta yang akan Lewat)

Ketika cinta bertasbih


1 Komentar

Ringkasan Novel Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) - Dunia Hera · 16 Desember 2021 pada 9:30 pm

[…] Buya Hamka menurut Rusydi Hamka […]

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: