Awal tahun 1963, dunia sastra Indonesia digemparkan oleh dua surat kabar harian ibukota, yaitu Harian Rakyat dan Harian Bintang Timur. Koran berbau komunis itu memberitakan di halaman pertama :”Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck “adalah hasil jiplakan oleh pengarang Hamka. Berita itu dilansir oleh penulis bernama Ki Panji Kusmin, sedangkan di Harian Bintang Timur dalam rubrik Lentera, juga memuat dan mengulas bagaimana Hamka mencuri karangan asli dari Alvonso Care, seorang pujangga Perancis. Rubrik Lentera ini diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.

Berbulan – bulan lamanya kedua koran komunis ini menyerang Buya dengan tulisan-tulisan berbau fitnah. Bahkan juga menyerang pribadi Buya. Namun, Buya bwgitu tenang menghadapi segala hujatan dari Ki Panji Kusmin dan Pramoedya Ananta Toer.

PKI melakukan usaha kudeta tanggal 30 September 1965 namun gagal. Dalam usaha Kup itu, 6 orang jenderal dan 1 perwira gugur dibunuh PKI. Akibat kegagalan Kup itu, Pramoedya ditahan di Pulau Buru.

Buya seorang pemaaf

Pada suatu hari, Buya kedatangan sepasang tamu. Si perempuan orang pribumi, sedangkan yang laki-lakinya seorang keturunan Tionghoa. Kepada Buya si perempuan mengenalkan diri. Namanya Astuti, sedangkan yang laki-laki bernama Daniel Setiawan. Buya agak terkejut ketika Astuti mengatakan bahwa ia adalah anak sulung dari Pramoedya Ananta Toer. Astuti menemani Daniel menemui Buya untuk masuk Islam sekaligus mempelajari agama Islam, menjadi seorang mualaf. Astuti bercerita, selama ini Daniel adalah seorang non muslim. Ayahnya, Pramoedya, tidak setuju bila anak perempuannya yang muslimah menikah dengan laki-laki yang berbeda kultur dan agama. aSelesai Astuti mengutarakan maksud kedatangannya serta latar belakang hubungannya dengan Daniel, tanpa ada keraguan, permohonan kedua tamunya diluluskan oleh Buya. Buya membimbing calon menantu Pramoedya, Daniel, mengucapkan dua kalimat syahadat, menganjurkan berkhitan, dan menjadwalkan untuk mulai belajar agama Islam dengan Buya. AsakDalam pertemuan tersebut, Buya sama sekali tidak pernah menyinggung bagaimana sikap Pramoedya terhadapnya beberapa waktu yang lalu.

Salah satu teman Pramoedya, DR. Hoedaifah Koeddah pernah menanyakan kepada Pramoedya, apa alasan tokoh Lekra ini mengutus calon menantunya menemui Hamka. Dengan serius Pram menjelaskan kepada temannya itu.

“Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus menikah dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirimnya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka.” Pramoedya menjelaskan dengan gamblang.

Menurut DR. Hoedaifah di majalah Horison, Agustus 2006, secara tidak langsung peristiwa diatas seakan Pram meminta maaf kepada Buya karena tulisan-tulisannya di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat. Dan secara tidak langsung pula Buya sudah memaafkan Pram dengan bersedia membimbing dan memberi pelajaran agama Islam kepada sang calon menantu Pram.

Berkaca dari hubungan Buya Hamka dan Pramoedya, banyak hal yang perlu diteladani,salah satunya ialah Sikap Buya yang berpikiran positif, yakin semua manusia pada dasarnya baik, tidak mendendam, dan pemaaf.

Terima kasih ❤

Ig. Hari_hari_hera

Sumber : buku Ayah-Irfan Hamka


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: