Masjid Agung Al-Azhar didirikan oleh Yayasan Pesantren Islam (YPI). YPI sendiri didirikan pada tanggal 7 April 1952 oleh empat belas orang tokoh Islam dan pemuka masyarakat di Jakarta. Salah seorang pencetus pendirian yayasan ini adalah dr. Syamsuddin (Menteri Sosial RI) dan didukung oleh Sjamsuridjal, Walikota Jakarta Raya saat itu.

Nama – nama pendiri yayasan selengkapnya sebagai berikut :

  1. Soedirjo
  2. Tan In Hok
  3. Gazali Syahlan
  4. H. Sju’aib Sastradiwirja
  5. Abdullah Salim
  6. Rais Chamis
  7. Ganda
  8. Kartapradja
  9. Sardjono
  10. H. Sulaiman Rasjid
  11. Faray Martak
  12. Ja’cob Rasjid
  13. Hasan Argubie
  14. Hariri Hady

Tujuan dari pendirian YPI adalah untuk membangun pesantren sebagai wadah pendidikan bagi pemuda-pemuda muslim. Bukan hanya sebagai mubaligh, namun juga sebagai kader pembangunan bangsa yang berakhlak dan berjiwa bersih.

Atas bantuan dan jasa dari Sjamsuridjal, yayasan memperoleh sebidang tanah yang terletak di daerah Kebayoran dengan luas sekitar 43.775 m², yang pada waktu itu merupakan daerah satelit dari ibukota Jakarta.

hhehelDiatas tanah itulah, pada tahun 1953 mulai dilaksanakan pembangunan sebuah masjid besar yang kemudian dinamakan Masjid Agung Kebayoran dengan arsitek Ir. Roseno, seorang ahli beton lulusan ITB. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri waktu itu, Prof. Dr. Mr. Hazairin.

Pada tahun 1957, pembangunan masjid hampir selesai, hanya tinggal pekerjaan kecil-kecil saja. Melihat perkembangan tersebut Buya Hamka meminta izin ke pengurus yayasan agar masjid bisa dipergunakan untuk sholat lima waktu. Permintaan Buya disetujui oleh pengurus YPI.

Seiring waktu, Buya mulai menyusun gagasan menjadikan masjid tersebut sebagai pusat dakwah, mulai dari Kuliah Subuh, Pengajian Malam Selasa yaitu Kajian Tasawuf, Pengajian ibu-ibu, serta kegiatan dakwah yang lain.

Buya bukan pengurus YPI saat itu, namun gagasan Buya dijalankan oleh pengurus masjid.

Nama – nama tenaga penggerak dalam pengembangan dakwah dan pendidikan di Masjid Agung saat itu:

  1. Ir. Amril Rajo Mantari
  2. DR.Soelastomo
  3. Muchtar Zakaria
  4. Aminuddin Siregar
  5. Abdullah Salim
  6. Soemeji

Doktor Honoris Causa

Tahun 1959, Buya Hamka mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Saat pemberian gelar, Buya menyampaikan pidato dengan topik Pengaruh Pemikiran Muhammad Abduh terhadap Pergerakan du Indonesia. Saat pemberian gelar, Buya menyampaikan keinginannya kepada pihak Al-Azhar Kairo untuk mengundang Syekh Mahmoud Syaltout, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo untuk berkunjung ke Indonesia. Pihak Al-Azhar Kairo menyampaikan bahwa Syekh Mahmoud Syaltout hanya bisa diundang oleh Presiden atan Negara.

Saat tiba di Indonesia, Buya menyampaikan keinginannya untuk mengundang Syekh Mahmoud Syaltout ke Indonesia kepada Menteri Agama saat itu, KH. Muhammad Ilyas. Atas bantuan menteri agama, akhirnya Presiden RI, Soekarno, mengundang Syekh Mahmoud Syaltout untuk datang ke Indonesia.

Sekitar tahun 1960, Syekh Mahmoud Syaltout berkunjung ke Indonesia. Salah satunya melihat pusat aktivitas tokoh yang dua tahun sebelumnya telah dianugerahi gelar akademis Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo, yaitu Masjid Agung Kebayoran.

Buya menyambut hangat kedatangan beliau. Saat kunjungan inilah, Syekh Mahmoud Syaltout berkenan memberi nama masjid tersebut dengan nama Al-Azhar, yang sebelumnya, baik ketika dibangun pada tahun 1953 maupun ketika diresmikan tahun 1958 oleh Presiden Soekarno, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Agung Kebayoran.

Kisah dan Peran Buya Hamka terkait Masjid Al-Azhar

Jika berkunjung ke Masjid Al-Azhar, kita akan melihat keindahan kaligrafi yang memenuhi ruang shalat di lantai 2, Buya lah yang mempunyai gagasan mengundang ahli kaligrafi dari Medan bernama Azhari dan anaknya, Kausar. Pengerjaan dilaksanakan selama 3 bulan, siang dan malam. Selama masa pengerjaan, ayah dan anak ini tinggal di ruangan yang ada di masjid dan segala keperluan ditanggung oleh YPI. Hadiah yang tak ternilai yang diberikan oleh YPI kepada ahli kaligrafi ini adalah menunaikan ibadah haji.

Sedangkan di tahun 1970, YPI juga memberangkatkan para marbot antara lain Bapak Kindi, Bapak Rodjak, Bapak Suryatman, Ikar Sukardi, Ujang Sukandi, Tony, Agus, dan Saleh, sedangkan satu marbot yang bernama Kohar berangkat karena mendapat hadiah dari jemaah.

Terima kasih ❤

hari_hari_hera

Sumber: Ayah (Irfan Hamka)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: