#Book Review : IBUK Karya Iwan Setyawan

Kali ini saya akan mencoba mereview novel karya Iwan Setyawan. Sebenarnya ini kali kedua saya membaca karya beliau. Semula karena judulnya lah yang membuat saya tertarik untuk membaca novel ini. Novel setebal 308 halaman ini menceritakan sosok ibu yang luar biasa tangguh.

Novel dibuka dengan perjalanan usia belia Ibuk (Tinah). Karena keterbatasan keluarganya, Ibuk harus menghentikan mimpi untuk melanjutkan sekolah.

Hidup Ibuk lebih berwarna ketika berjumpa dengan Abdul Hasyim (Bapak). Seorang sopir angkot. Hingga akhirnya mereka menikah dan memiliki 5 anak. Isa, Nani, Bayek, Rini dan Mira adalah penyemangat Ibuk dan Bapak dalam menghadapi lika- liku kehidupan.

Titik Balik kehidupan keluarga Ibuk terdapat pada bab “ Berlayar dan Terus Berlayar. ” Dimana Bayek sebagai anak lelaki satu-satunya diterima IPB melalui jalur PMDK. Kisah ini terdapat pada halaman 131. Terus mengalir hingga ke halaman 172.

Melihat perjuangan Ibuk dan Bapak dalam menyekolahkan mereka. Bayek berjanji akan membalas semua pengorbanan Bapak dan Ibuk.

Puncak dari Novel ini terdapat pada bab “Pesan Terakhir“. Sosok Bapak meninggal dunia. Dan diceritakan hingga Bab “Mengantar Bapak Pulang“.

Novel ini ditutup dengan Bab “Aku”. Menceritakan sosok Bayek yang tak lain adalah Sang Penulis sendiri. Berisi ucapan terima kasih beliau kepada Bapak dan Ibuk. “Aku ingin segera pulang. Mengunjungi makam Bapak. Memeluk Ibuk. Menatap matanya. Aku ingin membelikan daster batik. Aku ingin memberikan hatiku. Mencintai tak bisa menunggu.”

Meskipun novel ini berisi ratusan halaman tetapi saya tak merasa bosan membacanya. Bahkan air mata terus mengalir sepanjang membaca novel ini. Mengapa? karena Penulis mampu menuangkannya kedalam kalimat- kalimat sederhana yang mudah dicerna dan mengaduk-aduk emosi pembaca.

Novel ini semakin menarik karena dibuka oleh puisi terkenal karya Sapardi Djoko Damono.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya debu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Setelah membaca dua karya beliau. 9 Summers 10 Autumns (dari Kota Apel ke The Big Apple) dan Ibuk membuat saya paham gaya penulisan dari Iwan Setyawan. Dan ini membuat saya terus menunggu karya-karya beliau berikutnya.

Terima kasih❤

Tinggalkan Balasan